Si Juragan

Oleh: Wahyu Noor S. (Bobo No. 4/XXVIII)


Bubar sekolah. Agustin, Eti, dan Siwi memutar jalan menuju rumah. Melintas sisi timur alun-alun. Di situ ada warung Mekar Indah, menjual bubur kacang hijau yang terkenal sedap. Semangku bubur harganya lima ratus rupiah. Dimakan panas-panas rasanya nikmat. Ditaburi es batu pun rasanya lezat. Pokoknya siiiplah!

"Nanti, bubur kacang hijaunya dibungkus saja. Lalu dimakan di rumahku. Aku mau beli dua bungkus. Sebungkus untuk Ibu," kata Siwi beruntun. Hihihi…, dua bungkus? Sebungkus pun tak bisa. Soalnya warung Mekar Indah itu tenyata tutup. Agustin, Eti, dan Siwi mengikik. Lantas pulang dengan langkah panjang.

Sampai di rumah, Siwi melihat Ibu sedang berbaring di ranjang. Ibu lagi tak enak badan. "Sudah pulang, Si?" sapa Ibu, lalu duduk di tepi ranjang.

"Sudah," jawab Siwi. "Sebenarnya Siwi mau belikan Ibu bubur kacang hiaju di Mekar Indah. Tapi tutup," lanjutnya bercerita.

"Oya? Kalau tak enak badan begini, memang maunya makan yang segar berkuah. Tuh di dapur ada bahan untuk membuat bubur kacang hijau. Ibu belum sempat membuatnya," suara Ibu terdengar parau. Pilek rupanya.

"Oya? Siwi bisa membuatnya, lo!" celetuk Siwi tiba-tiba, lantas tertawa.

"Tentu saja!" sambar Ibu cepat. Dan mengancungka ibu jari tangan.

Selesai makan dan shalat, Siwi pergi ke dapur. Telah ada rendaman kacang hijau dalam panci. Tinggal menyulut kompor dan menaruh panci di atasnya. Sembari menunggu kacang hijau empuk, Siwi memarut kelapa. Srek srut srek srut… Begitu selesai, Siwi memerasnya dan jadilah santan. Kemudian apa, ya? Siwi menepuk jidatnya seperti teringat sesuatu. Lalu bergegas mencuci dan mememarkan jahe dan sereh.

Begitu kacang hijau empuk, Siwi memasukkan gula merah ke dalam panci. Plus jahe dan sereh. Terakhir ia masukkan semangkuk besar santan. Begitulah cara Ibu membuat bubur kacang hijau, yang ditiru Siwi.

"Lebih enak dari Mekar Indah, lo!" komentar Ibu di ruang tengah. Lidahnya berdecap menikmati bubur kacang hijau yang dihidangkan Siwi.

"Ah," sendok Siwi terhenti di udara. "Ibu mengejek," sambungnya menahan tawa.

"Benar kok!"

"Kalau benar, bagaimana kalau Agustin dan Eti saya suruh mencicipi? Hitung-hitung promosi," ucap Siwi. Senyumnya merekah.

"Boleh. Asal jangan lupa sepiring untuk Ayah."

"Tentu!" sahut Siwi renyah.

Sepuluh menit kemudian, Siwi sudah berada di jalan depan. Rumah Siwi, Agustin, dan Eti saling berdampingan. Kebetulan Agustin dan Eti sedang santai di teras rumah masing-masing. Siwi melambaikan tangan. Kedua temannya bergegas mendekat.

"Aku bawa bubur kacang hijau untuk kalian," kata Siwi begitu Agustin dan Eti berada di hadapannya. Tangannya terangkat ke udara. Menggoyang-goyang dua bungkus bubur kacang hijau dalam plastik mungil. Satu bungkus berisi sekitar lima belas sendok makan. "Harganya seratus rupiah," katanya tertawa.

"Boleh juga," sahut Agustin dan Eti serentak, sembari menggapai plastik di tangan Siwi.

"Wow, masih panas!" sambung Eti.

"Beli dimana, sih?" tanya Agustin.

"Di dapur Ibu," jawab Siwi kalem.

"Jadi kamu mencuri, ya? Lalu dijual pada kami!" cetus Eti sekenanya. Disambut tawa Agustin dan Siwi.

"Enak saja!" cetus Siwi disela tawa. "Aku tidak minta bayaran, kok!"

"Tadi katamu, seratus rupiah," ingat Eti. Dan Siwi tersenyum jenaka, meyimpan rahasia.

Hari ini, rahasia itu terbongkar. Agustin dan Eti menunggu Siwi di jalan depan untuk berangkat ke sekolah. Siwi muncul dari pintu rumahnya, menenteng sebuah tas plasitk. "Bawa apa, sih?" tanya Agustin dan Eti.

"Bubur kacang hijau. Seratus rupiah satu bungkus!" jawab Siwi kalem. Dan memperlihatkan isi tas pada kedua temannya.

"Ooo!" cetus Agustin dan Eti seperti koor. Lalu tawa mereka pecah.

"Ada yang lucu?" tanya Siwi mendelik.

"Ah, tidak," ujar Agustin dan Eti.

Tibalah mereka di sekolah. Di SD Negeri I.

"Bubur kacang hijau! Bubur kacang hijau! Siapa mau beli, acungkan jari!" Eti berteriak-teriak di depan kelas. "Rasanya lezat, nikmat, dan bergizi tinggi!" sambungnya cengar-cengir, melihat Siwi mengacungkan tinjunya.

"Nih, penjualnya!" Agustin menepuk-nepuk bahu Siwi. Begitu Siwi duduk, teman-teman merubungnya.

Tak cuma merubungnya. Mereka membelinya. Wow, ternyata dagangan Siwi laku keras!

"Enak. Seperti di Mekar Indah," komentar Ito, salah seorang temannya.

"Lebih joss ini," timpal Egi.

"Ini bikinan Siwi sendiri. Lo!" kata Agustin berpromosi.

"Pantas rasanya tokk cerrr!" komentar Rini. Disambut tawa yang lainnya.

Sejak itu Siwi mendapat julukan "Si Juragan." Hihihi… Siwi acuh saja. Malahan Agustin dan Eti lalu mengikuti jejaknya. Agustin membawa kripik singkong. Eti membawa kacang bawang. Alhasil, keduanya pun mendapat juluka "Si Juragan."

Hihihi… siapa tahu jadi juragan betulan nantinya. Yang pasti, kini mereka dapat untung, dan bisa menabung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar