Oleh: Fransisca Agustin (Bobo No.
49/XXVII)
Timothy
sangat gembira. Ia baru saja lulus dari sekolah juru masak dengan nilai
terbaik. Dan ia mendapat tawaran pekerjaan sebagai juru masak istana!
Setelah mohon doa restu pada ibunya, ia berangkat ke istana. Setibanya
di sana, telah hadir juga dua orang lulusan sekolah memasak terbaik.
Mereka
memulai pekerjaan pertama mereka. Timothy bertugas menyiapkan makanan
utama. Kedua kawannya menyiapkan makanan pembuka dan penutup. George,
juru masak kepala, memperhatikan hasil kerja mereka. Ia
mengangguk-angguk saat melewati dua kawan Timothy. Namun ketika melihat
hasil masakan Timothy, ia berhenti dan mengerutkan keningnya.
"Hei,
bumbu dagingmu terlalu tebal. Hiasannya juga terlalu lama di lemari
pendingin. Lembek. Huh!" cemooh juru masak kepala yang sudah tua itu.
Timothy diam melongo. Wajahnya pucat pasi seketika.
"Dengar
baik-baik! Istana hanya butuh seorang juru masak berbakat. Ingat! Hanya
seorang! Hati-hatilah!" bentaknya. Timothy hanya menunduk, sedangkan
kedua temannya tersenyum penuh kemenangan.
Hari-hari
berikutnya, hinaan untuk Timothy semakin banyak. Tomatnya terlalu
merah, piringnya terlalu lonjong, kalkun panggangnya kurang satu menit…
Dan banyak lagi kesalahan yang dicari-cari. Timothy sangat sedih.
Hancurlah impian ibunya untuk melihatnya menjadi orang yang berhasil.
Timothy tidak tahan lagi. Ia nekat lari dari istana, kembali pulang ke
rumah ibunya.
"Ibuuu..." dipeluknya ibunya dengan perasaan menyesal, karena telah mengecewakannya.
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya ibunya lembut.
"Kepala
juru masak…membenciku sejak awal. Dia sering mencela…hasil pekerjaanku.
Aku… aku akan mengundurkan diri saja..." Timothy terisak.
Ibunya
tersenyum mengerti. Dibelainya kepala Timothy, "Anakku tercinta… Bila
kau mengendarai kereta yang ditarik seekor kuda dan seekor kambing,
mana yang akan kau cambuk supaya kereta berlari lebih kencang?"
Timothy
terkejut mendengarnya. Meskipun heran, Timothy menjawab, "Tentu saja
kuda, Bu. Karena kuda jauh lebih pandai dan kuat dibanding kambing. Apa
maksud Ibu sebenarnya?"
"Anakku,
itu sebabnya juru masak kepala mendidikmu lebih keras dari yang lain.
Karena kaulah yang terbaik di antara mereka!" ujar ibunya bijaksana.
Timothy tertegun beberapa saat. Namun senyumnya lalu. Ia pun bangkit dengan mantap. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Bu!"
Sekembalinya
ke istana, Timothy menjadi jauh lebih bersemangat. Apapun yang
dikatakan George, diterimanya dengan senang hati. George agak heran,
lalu bertanya. Timothy menceritakan apa yang dikatakan ibunya.
"Ibumu
benar. Ada orang yang dilahirkan untuk menjadi seorang juru masak.
Kamulah orangnya. Aku sudah tahu sejak pertama kali melihat masakanmu.
Yakinlah, orang sepertimu sangat langka. Belum tentu ada di setiap
generasi. Aku sangat beruntung mendapatkanmu, Timothy!" katanya. Ucapan
George terdengar sangat jelas, dan merdu di telinga Timothy.
Beberapa
tahun kemudian Timothy diangkat menjadi juru masak utama di istana
menggantikan George. Masakannya terkenal sampai ke berbagai negeri.
Namanya menjadi legenda hingga berabad-abad lamanya.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar